Bulan Juni, Bulan Bung Karno

Di beberapa sudut jalan di Kota Malang, bertebaran spanduk dengan tulisan “Bulan Juni Bulannya Soekarno” lho selama bulan juni ini. Pernah lihatkan? Tahukan kamu apa maksud dari spanduk-spanduk ini? Mungkin sudah banyak yang tahu ya. Yah, tapi ya karena kami ini warga Indonesia yang baik, jadi boleh juga dong kami ikut berbagi informasi tentang hal ini. Siapa tahu ada yang belum tahu, jadikan biar kita sama-sama tahu gitu *ngomong apasih* hehehe.

Kebetulan kami berdua plus seorang kawan bernama babam eh Abram habis berwisata mencari makna yang terpendam dari kisah Bung Karno di bulan juni ini langsung ke kampung halaman Bung Karno lho, yaitu ke Kota Blitar! Jadi sekalian ajalah ya kami kisahkan dalam blog ini.

DSC03649

— Buat yang kepo, pasti tanya:

“Kenapa memangnya dengan Bulan Juni? Ada apaan sih? Emang ada hubungannya dengan Pak Karno?”

Hubungan? Ya ada dong.

Dari awal bulan, Juni sudah tercatat sebagai bulan lahirnya falsafah bangsa yaitu Dasar Negara Pancasila, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1945. Pancasila secara resmi pertama kali dikemukakan oleh Bung Karno pada pidatonya dengan judul “Lahirnya Pancasila” saat rapat BPUPKI yang kemudian diresmikan dan diterima sebagai azas yang kekal dan abadi dalam membangun Indonesia. Nah, dari SD kita pasti sudah disuruh menghafalkan apa isi pancasila itu kan? Pasti masih hafal dong sampai sekarang? Jangan sampai lupa ya, soalnya Pancasila itu nilai penting yang jadi patokan hidup kita dalam berwarga negara. WNI hafal Pancasila tuh wajib hukumnya!

Dan ternyata di Kota Blitar, warganya gak cuma hafal pancasila aja tapi juga selalu memperingati hari kelahiran pancasila ini. Yah rata-rata sih memang pendukung salah satu partai merah yang memang mendominasi di Kota Blitar, selain itu juga banyak pelajar yang ikut serta. Acaranya gak cuma upacara aja, tapi juga diadakan pawai arak-arakan keliling kota dan ada pentas budayanya.

0bFqTjFNYN

Bulan Juni juga jadi bulan kelahiran Bapak Proklamator kita ini. Tahu dong tanggal berapa? Yup, 6 Juni 1901 Putra Sang Fajar ini lahir di Kota Surabaya, Jawa Timur. Beliau kemudian dibesarkan disebuah rumah sederhana (tapi menurut kami cukup besar dan mewah di zamannya) di tengah Kota Blitar, yang sekarang dikenal dengan nama Istana Gebang/ Ndalem Gebang. Kita sempet-sempetin mampir loh, soalnya penasaran banget belum pernah berkunjung kesana sebelumnya.

Istana Gebang ini terdiri dari 1 bangunan utama, 1 bangunan bekas istal (sekarang digunakan sebagai tempat latihan tari), 1 bangunan samping, 2 garasi mobil dan 1 bangunan kecil yang rencananya akan dibuat museum PETA. Bangunan utama rumahnya nyaman banget, homey, tipikal rumah masyarakat jawa di masa lalu, jadi berasa lagi di rumah eyang sendiri. Perabotan di rumah ini pun masih tertata rapi dan ditata menyerupai keadaan waktu Bung Karno kecil tinggal disini dulu. Banyak kenangan beliau tersaji rapi di rumah ini, salah satunya deretan foto-foto keluarga, beberapa lukisan, dan hiasan-hiasan milik keluarga. Selain itu di garasi juga terdapat mobil Mercedes Benz Type 190 Ponton milik Bung Karno. Mobil ini biasa digunakan Bung Karno saat berkeliling Blitar – Malang untuk dinas kepresidenan beliau. Seharusnya ada satu lagi koleksi mobil milik Bung Karno yaitu VW Kodok biru yang merupakan kendaraan pribadi milik Bung Karno yang digunakan saat meninggalkan istana presiden untuk terakhir kalinya. Tapi saat kami berkunjung, tidak terdapat mobil vw bersejarah tersebut. Oiya, berkunjung ke Istana Gebang tidak dipungut biaya apapun lho. Dan sebelum masuk kita diharuskan untuk melepas alas kaki. Kalau kalian pakai kaus kaki, jangan pecicilan yak, ntar jatoh nggeblak kayak si Puspita kemarin (maluu, sakit pulaaak ><) hehehe.

Bulan Juni juga menjadi bulan terakhir Bung Karno merasakan sakit yang dideritanya. Beliau wafat pada 21 Juni 1970 di RSPAD, Jakarta. Setelah sekian lama diasingkan di Wisma Yaso dengan penyakit komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak napas dan rematiknya tanpa ada perawatan yang baik. Selepas disemayamkan di Wisma Yaso, jasad Bung Karno dibawa ke Blitar untuk dimakamkan bersandingan dengan makam Ibu Ida Ayu Nyoman Rai dan Bapak Raden Soekemi Sosrodiharjo. Makam tersebut kini menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Blitar. Tentu saja kami tidak melewatkan untuk berkunjung dan menyekar ke kompleks makam Bung Karno.

DSC03703 DSC03727
DSC03717
DSC03730

Kompleks Makam Bung Karno kini sudah dilengkapi dengan Museum dan Perpustakaan yang dibangun modern lho, lengkap dengan kisah sejarah perjuangan dari presiden nomer wahid kita ini. Melalui pintu masuk selatan, kita langsung bisa berfoto ria di depan patung Bung Karno yang sedang duduk membaca (hobi yang sangat digemari Bung Karno). Di bagian kanan patung merupakan perpustakaan sedangkan di sisi kirinya merupakan museum.

Perspustakaannya sendiri memiliki sejumlah buku-buku khusus yang cukup lengkap berkaitan dengan sejarah Indonesia dan banyak juga koleksi buku dengan tema lainnya. Kalau tidak salah, di perpustakaan ini pun juga menyimpan berkas-berkas pidato Bung Karno saat sebelum dan setelah menjabat sebagai Presiden. Di dalam perpustakaannya pun juga terdapat ruang audio visual, jadi kita tidak hanya bisa nggetu membaca saja tapi juga bisa menonton beberapa video edukasi. Sedangkan pada bagian museum, lebih seperti ruang pameran karena banyak sekali deretan foto dan lukisan. Ada juga beberapa koleksi pribadi miliki Bung Karno seperti pakaian safari, koper, pedang pusaka, dan juga replika bendera pusaka merah putih. Ada cerita kalau salah satu lukisan Bung Karno (yang dekat dengan pintu masuk) memiliki misteri yaitu lukisan ini seolah ‘hidup’ karena bagian jantungnya dapat berdegup. Katanya bisa dicoba lihat bila kita berdiri di sisi kiri, maka kita akan melihat kanvas di dada kiri Bung Karno bergerak maju mundur seperti ilusi degup jantung. Tapi ini cuma cara cerdik sang pelukis aja kok yang membuat ilusi seperti ini tapi tetep aja keren ya!

Hari ini tepat 45 tahun Bung Karno melepas tugas sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. Pasti banyak banget nih yang nyekar ke makam beliau dan pasti makin banyak yang jual bunga nih di depan pintu masuk kompleks makam, hehe. Jujur sih agak risih sama yang jual kembang ini, agak maksa dan ngasih harganya emang agak mahal (Rp10.000/3bungkus). Jadi kalau mau berkunjung cukup beli satu aja, tenteng terus biar tidak ditawarin lagi. Di kompleks ini juga ada World Peace Gong (Gong Perdamaian Dunia) lho, salah satu dari beberapa gong perdamaian di dunia. Di istana gebang juga ada. Gong di kompleks ini disahkan pada 1 Juni 2009 saat peringatan grebeg pancasila. Alasan utama keberadaan gong di kompleks ini karena Bung Karno dianggap salah satu penggagas perdamaian dunia (terutama sebagai penggagas KAA).

DSC03655

Setengah hari berada di Kota Blitar ternyata lumayan banyak menguak kisah sejarah Bung Karno. Dan ternyata memang hampir semua tanggal penting yang berkaitan dengan Bung Karno itu selalu terjadi di Bulan Juni. Pantas saja banyak yang menyebut bulan juni sebagai bulannya Bung Karno. Dengan mengunjungi langsung ke tempat-tempat penting yang berkaitan, kami memang seperti berada di dalam alur kisahnya, dan itu sangat menyenangkan! Sayang sih, kami tidak berkesempatan datang saat grebeg pancasila, pasti lebih seru. Kalian kalau penasaran, coba wisata kesini juga dong, transportasi ke kota blitar gampang kok, dan mencari makanan enak khas kota ini juga mudah dan hemat, wisata ala mahasiswa banget deh pokoknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s